Makalah Tafsir Ayat dan Hadits Tentang Jual Beli
اتٲكلو١١موالكم بينكم بالباطل١لاّ١ن
تكون تجارةعن تراض منكم
“Janganlah kamu saling memakan harta
sesamamu dengan jalan bathil kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku
dengan suka sama suka diantara kamu.”(An nisa:29).
Allah SWT melarang mengambil
harta orang lain dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dengan
perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka. Menurut ulama tafsir, larangan
memakan harta orang lain dalam ayat ini mengandung pengertian yang luas dan
dalam, antara lain:
a. Agama Islam mengakui adanya hak milik perseorangan yang berhak mendapat
perlindungan dan tidak boleh diganggu gugat.
b. Hak milik perseorangan itu apabila banyak, wajib dikeluarkan zakatnya dan
kewajiban lainnya untuk kepentingan agama, negara dan sebagainya.
c. Sekalipun seseorang mempunyai harta yang banyak dan banyak pula orang yang
memerlukannya dari golongan-golongan yang berhak menerima zakatnya, tetapi
harta orang itu tidak boleh diambil begitu saja tanpa seizin pemiliknya atau
tanpa menurut prosedur yang sah.
Kemudian Allah menerangkan bahwa mencari harta, dibolehkan dengan cara berniaga
atau berjual beli dengan dasar suka sama suka tanpa suatu paksaan. Karena jual
beli yang dilakukan secara paksa tidak sah walaupun ada bayaran atau
penggantinya.
Dengan ayat lain yakni :
mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan
merugi, (Fathir: 29)
tafsir dari ayat ini adalah
Mereka itu ibarat pedagang yang tidak merugi tetapi memperoleh pahala yang
berlipat ganda, sebagai karunia Allah SWT, berdasarkan amal baktinya.
Menurut
istilah, jual beli adalah:
1.
Menukar barang
dengan barang (barter) atau barang dengan uang dengan jalan melepaskan hak
milik dari satu pihak kepada pihak lain dengan dasar saling rela.
2.
تمليك عين مالية بمعاوضة باذن
شرعي
"pemilikan harta benda dengan jalan tukar-menukar yang
sesuai dengan syara’"
3.
مقابلة مال قابلين للتصرف بايجاب و
قبول على الوجه المأذون فيه
"saling tukar harta, saling menerima, dapat dikelola, dengan ijab qabul,
dengan cara yang sesuai dengan syara’ ”
4.
مقابالة مال
على وجه مخصووص
"tukar menukar benda lain dengan cara yang khusus
(dibolehkan)"
5.
مبادلة مال على سبيل التراضى أو
نقل ملك بعوض على الوجه المأذون فيه
"penukaran benda dengan benda lain dengan jalan saling
merelakan atau memindahkan hak milik dengan ada penggantinya dengan cara yang
diperbolehkan"
6.
عقد يقوم على أساس مبادلة المال
بالمال ليفيد تبادل الملكيات على الدوام
“aqad yang
tegak atas dasar penukaran harta dengan harta, maka jadilah penukaran hak milik
tetap”
Jadi dapat disimpulkan bahwa inti jual beli adalah perjanjian tukar-menukar
benda atau barang yang mempunyai nilai secara suka rela diantara kedua belah
pihak, yang satu memberi benda-benda dan pihak lain menerimanya sesuai
perjanjian dan atau ketentuan yang telah dibenarkan syara’ dan disepakati.
Di jelaskan dalam Hadits riwayat Ibnu Hibban dan Ibnu Majah menjelaskan hal
tersebut:
إِنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ
“Sesungguhnya Jual Beli itu haruslah dengan saling suka sama suka.”
Oleh karena kerelaan adalah
perkara yang tersembunyi, maka ketergantungan hukum sah tidaknya jual beli itu
dilihat dari cara-cara yang nampak (dhahir) yang menunjukkan suka sama suka,
seperti adanya ucapan penyerahan dan penerimaan.
DASAR HUKUM JUAL BELI
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ
“Dan Allah telah menghalalkan jual beli.” (Q.S. Al Baqarah: 275).
Al-Hafizh Ibnu katsir dalam
tafsir ayat diatas mengatakan: “Apa-apa yang bermanfaat bagi hamba-Nya maka
Allah memperbolehkannya dan apa-apa yang memadharatkannya maka Dia melarangnya
bagi mereka”.
Dari ayat ini para ulama
mengambil sebuah kaidah bahwa seluruh bentuk jual beli hukum asalnya boleh
kecuali jual beli yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Yaitu setiap
transaksi jual beli yang tidak memenuhi syarat sahnya atau terdapat larangan
dalam unsur jual-beli tersebut.
RUKUN JUAL BELI
1. Akad (ijab qabul).
Ijab qabul adalah bukti adanya kerelaan
antara dua belah pihak, karena ridha (rela) adalah perkara hati, maka hendaklah
dapat dibuktikan wujudnya dengan ijab qabul.
Syarat sah ijab qabul ada 3:
1)
Tidak ada
pemisah, seperti diam ketika ijab qabul.
2)
Tidak diselingi
dengan kata lain antara ijab qabul.
3)
Islam, khusus
bagi pembeli saja dalam benda tertentu (penjualan budak).
2.
Orang-orang
yang berakad (penjual & pembeli).
Syaratnya adalah:
1)
Baligh berakal
tidak mudah tertipu, orang bodoh tidak boleh menjual harta walaupun miliknya,
begitu juga orang gila dan anak kecil. Firman Allah:
وَابْتَلُوا الْيَتَامَى حَتَّى
إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا
إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ
“Dan ujilah anak yatim itu
sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka
telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka
harta-hartanya”. (QS. An-Nisaa’: 6).
Para ulama ahli tafsir
mengatakan:“Ujilah mereka supaya kalian mengetahui kepintarannya”, dengan
demikian anak-anak yang belum memiliki kecakapan dalam melakukan transaksi
tidak diperbolehkan melakukannya hingga ia baligh. Dan di dalam ayat ini juga
Allah melarang menyerahkan harta kepada orang yang tidak bisa mengendalikan
harta.
2)
Beragama islam
3. Ma’kud ‘alaih (objek akad).
LARANGAN
JUAL BELI
Dalam masalah ini ada tiga
pendapat para ulama fiqih, tetapi pendapat yang rojih (terkuat) ialah yang
mengatakan dibolehkan dan bahkan dianjurkannya jual beli seperti ini dalam
rangka membantu saudara seiman yang membutuhkan uang tunai secepatnya. Juga
dikarenakan tidak terdapat unsur keterpaksaan, karena orang ini akan menjual
barangnya kepada siapapun dengan harga miring. Namun sebagian ulama dalam
mazhab hanbali memakruhkan membeli barang tersebut meskipun transaksinya sah.
Adapun hadits yang berbunyi:
نَهَى النَّبِىُّ -صلى الله عليه
وسلم- عَنْ بَيْعِ الْمُضْطَرِّ
“Bahwa Nabi shallallahu alaihi
wasallam melarang membeli barang dari orang yang sedang kepepet”, adalah hadits
dho’if (lemah), diriwayatkan oleh Abu Daud no. 3384. (lihat Shohih Fiqhis
Sunnah IV/271)
3. Al-‘Aqdu
(transaksi/ijab-qabul) dari penjual dan pembeli.
Ijab (penawaran) yaitu si
penjual mengatakan, “saya jual barang ini dengan harga sekian”. Dan Qabul
(penerimaan) yaitu si pembeli mengatakan, “saya terima atau saya beli”.
Di dalam hal ini ada dua
pendapat:
Pendapat pertama: Mayoritas
ulama dalam mazhab Syafi’i mensyaratkan mengucapkan lafaz ijab-qabul dalam
setiap bentuk jual-beli, maka tidak sah jual-beli yang dilakukan tanpa
mengucapkan lafaz “saya jual… dan saya beli…”.
Pendapat kedua:
Tidak mensyaratkan mengucapkan lafaz ijab-qabul dalam setiap bentuk jual-beli.
Bahkan imam Nawawi -pemuka ulama dalam mazhab Syafi’i- melemahkan pendapat
pertama dan memilih pendapat yang tidak mensyaratkan ijab-qabul dalam aqad jual
beli yang merupakan mazhab maliki dan hanbali. (lihat. Raudhatuthalibin 3/5).
Dalil pendapat kedua sangat
kuat, karena Allah dalam surat An-Nisa’ hanya mensyaratkan saling ridha antara
penjual dan pembeli dan tidak mensyaratkan mengucapkan lafaz ijab-qabul. Dan
saling ridha antara penjual dan pembeli sebagaimana diketahui dengan lafaz
ijab-qabul juga dapat diketahui dengan adanya qarinah (perbuatan seseorang
dengan mengambil barang lalu membayarnya tanpa ada ucapan apa-apa dari kedua
belah pihak). Dan tidak ada riwayat dari nabi atau para sahabat yang
menjelaskan lafaz ijab-qabul, andaikan lafaz tersebut merupakan syarat tentulah
akan diriwayatkan. (lihat. Kifayatul akhyar hal.283, Al Mumti’ 8/106).
Imam Baijuri –seorang ulama
dalam mazhab Syafi’i- berkata, “mengikuti pendapat yang mengatakan lafaz
ijab-qabul tidak wajib sangat baik, agar tidak berdosa orang yang tidak
mengucapkannya… malah orang yang mengucapkan lafaz ijab-qabul saat berjual beli
akan ditertawakan…” (lihat. Hasyiyah Ibnu Qasim 1/507).
Dengan demikian boleh membeli
barang dengan meletakkan uang pada mesin lalu barangnya keluar dan diambil atau
mengambil barang dari rak di super market dan membayar di kasir tanpa ada lafaz
ijab-qabul. Wallahu a’lam.
3. Al-Ma’qud ‘Alaihi ( objek
transaksi mencakup barang dan uang ).
Al-Ma’qud ‘Alaihi memiliki
beberapa syarat:
A.Barang yang diperjual-belikan
memiliki manfaat yang dibenarkan syariat, bukan najis dan bukan benda yang
diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Nabi shallallahu alaihi wasallam
bersabda:
إِنَّ اللَّهَ إِذَا حَرَّمَ
عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَىْءٍ حَرَّمَ عَلَيْهِمْ ثَمَنَهُ
“Sesungguhnya Allah apabila
mengharamkan atas suatu kaum untuk memakan sesuatu, maka Dia pasti mengharamkan
harganya”. (HR. Abu Dawud dan Baihaqi dengan sanad shahih)
Oleh karena itu tidak halal uang
hasil penjualan barang-barang haram sebagai berikut: Minuman keras dengan
berbagai macam jenisnya, bangkai, babi, anjing dan patung. Nabi shallallahu
alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالأَصْنَامِ
“Sesungguhnya Allah dan
Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamer, bangkai, babi dan patung”. (HR.
Bukhari dan Muslim)
Dalam hadist yang lain riwayat
Ibnu Mas’ud beliau berkata:
“Sesungguhnya Nabi Saw melarang
(makan) harga anjing, bayaran pelacur dan hasil perdukunan”. (HR. Bukhari dan
Muslim)
Termasuk dalam barang-barang
yang haram diperjual-belikan ialah Kaset atau VCD musik dan porno. Maka uang
hasil keuntungan menjual barang ini tidak halal dan tentunya tidak berkah,
karena musik telah diharamkan Allah dan rasul-Nya. Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam bersabda:
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى
أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
“Akan ada diantara umatku
sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat musik”. (HR.
Bukhari no.5590)
B. Barang yang dijual harus
barang yang telah dimilikinya. Dan kepemilikan sebuah barang dari hasil
pembelian sebuah barang menjadi sempurna dengan terjadinya transaksi dan
serah-terima.
Diriwayatkan dari Hakim bin
Hizam, dia bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang seseorang
yang datang ke tokonya untuk membeli suatu barang, kebetulan barang tersebut
sedang tidak ada di tokonya, kemudian dia mengambil uang orang tersebut dan
membeli barang yang diinginkan dari toko lain, maka Nabi shallallahu alaihi
wasallam menjawab:
لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ
“jangan engkau jual barang yang
tidak engkau miliki!” (HR. Abu Daud II/305 no.3503)
Dan tidak boleh hukumnya menjual
barang yang telah dibeli namun belum terjadi serah-terima barang.
Diriwayatkan dari Hakim bin
Hizam, ia berkata, “aku bertanya kepada rasulullah, jual-beli apakah yang
diharamkan dan yang dihalalkan? Beliau bersabda, “hai keponakanku! Bila engkau
membeli barang jangan dijual sebelum terjadi serah terima”. (HR. Ahmad)
syukron.. mantap artikelnya..
ReplyDeletewww.kiostiket.com