MAKALAH TAFSIR GHARAIB
BAB
I
PENDAHULUAN
Dalam Al Qur’an ada ayat-ayat yang sukar pemahamannya , adalah suatu kenyataan
yang sulit di bantah. Mengkaji hal itu secara ilmiah dan mendalam amat penting
agar terhindar dari penafsiran dan pemahaman yang keliru. Kondisi ayat yang
demikian telah menarik perhatian ulama tafsir dimasa lampau. Diantaranya
karangan al-Isfahani. Namun tulisan pakar tersebut tenatang permasalahan ini,
tidak membicarakan cara memahami ayat-ayat sukar tersebut melainkan secara
langsung memberikan pejelasan atau penafsirannya. Pada hal ini kita akan
membicarakan tntang ilmu tafsir bukan menafsirkan sebagaimana mereka. Dalam hal
ini ada sebuah hadist dari Abu Hurairot yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi
" أَعْرِبُوْا
الْقُرْآنَ وَ التَّمِسُوْا غَرَائِبَهُ "
(Terangkanlah makna-makna yang terkandung
didalam Alqur’an dan carilah peringatan kata kata yang sukar)
Jadi yang dikaji disini ialah ilmu tentang
menafsirkan “gharaib” Alqur’an , bukan menafsirkan ayat ayat Alqur’an yang
sukar dalam Alqur’an
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Lafal gharib berasal dari bahasa Arab, yakni jamak dari gharibah yang
berarti asing atau sulit pengertiannya. Apabila di hubungkan dengan Alqur’an
maka yang dimaksud dengannya ialah ayat ayat Alqur’an yang sukar pemahamannya
sehingga hampir-hampir tak dimengerti seperti kata ( اباَّ) dalam ayat 31 surat
Abassa (
وَفَاكِهَةَ وَ اَبَّا )
Jangankan kita yang bukan bangsa arab, bahkan orang Arab asli dan sahabat
Rasulullah tak paham maksud kata tersebut. Contoh ketika Abu bakar ditanya
tentang ayat tersebut beliau menjawab “ Mana langit yang akan menaungiku, dan
mana bumi tempatku berpijak, bila kukatakan sesuatu yang tidak aku ketahui
dalam kitab Allah? “.
Cuplilkan peristiwa di atas dapat dijadikan bukti bahwa dalam Alqu’an memang
ada ayat ayat yang sukar dipahami. Ayat-ayat yang serupa itulah yang dimaksud
gharaib Alqur’an.
B.
Cara
Menafsirkanya
Permasalahan ini menjadi problema setelah wafatnya Rasulullah, karena sebelum
rasul meninggal permasalahan kembalinya ke rasul. Namun sebelum wafat beliau
telah meninggalkan dua pusaka Alqur’an dan Hadist. Nabi menjamin sepenuhnya
siapa saja yang berpegang kepada keduanya niscaya tidak akan sesat
selama-lamanya.
( تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا كِتَابَ
اللهِ وَ سُنَّتِى ) (رواه الحكم )
Secara
teoris kembali keada Alqur’an dan Sunnah boleh disebut tidak ada masalah; tapi
problema segera muncul dan terasa sekali memberatkan pikiran ketika teori itu
akan diterapkanuntuk memecahkan berbagai kasus yang terjadi dimasyarakat. Dalam
hal ini tidak terkecuali permasalahan tafsir seperti kasus yang dihadapkan
kepada Abu Bakar yang telah dikutip di atas.
Ketika Nabi masih hidup perasalahan tafsir serupa itu belum sempat ditanyakan;
lalu beliau wafat sementara ayat-ayat yang gharaib belum sempat dijelaskan
pengertiannya. Oleh karenanya cara yang ditempuh ulama dalam memahminya ialah
sebagai berikut:
1.
Menafsirkan Alqur’an dangan Alqur’an
2.
Jika tidak ada dalam Alqur’an maka dicari dalam Sunnah;
3. Kalau tidak juga ditemukan, maka dicari dalam atsar
(pendapat) sahabat.
4. Jika masih belum dijumpai. Maka dicari dalam pendapat
para sahabat dan tabi’in.
Contoh : Kata ) ظُلْمٍ) didalam ayat 82 dari al-An’am :
الّذِيْنَ ءَامَنُوْا
وَلمَ ْيَلْبِسُوْا إِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُوْلئِكَ لَهُمْ الْأَمْنُ وَهُمْ
مُهْتَدُوْنَ. (الأنعام
Pemakaian kata zhulm dalam konteks ayat itu terasa membawa pemahaman
yang asing dan seakan akan tidak cocok dangan kenyataan sebab hampir tak
ditemukan orang-orang yang beriaman yang tak melakukan kezhaliman. Jika
demikian halnya tentu tak ada orang beriman yang akan tentram hidupnya dan
mereka tak akan mendapat petunjuk, atau dengan perataan lain percuma mereka
beriman jika mereka tak akan selamat karena teramat sukar bagi mereka untuk
membebaskan diri mereka sepenuhnya dari kezhaliman.
Oleh karena itu, sahabat bertanya kepada Raul Allah; lalu rasul menafsirkan
kata zhulm dalam ayat itu dengan syirik berdasarkan ayat 13 dari surat
Luqman
"لاَ تُشْرِكُ بِاللهِ إِنْ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ
عَظِيْمٌ "
(Jangan kamu mensekutukan Allah, seungguhnya
syirik itu ialah kezaliman yang besar )
Dari penjelasan Nabi itu diketahuilah bahwa kata zhulm dalam ayat itu
berarti syirik bukan kezhaliman biasa. Berdasarkan penjelasan nabi maka
ayat 82 dari An’am diterjemahkan sebagai berikut “Orang orang yang beriman
dan tidak mencampuradukan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah
orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka adalah orang orang yang mendapat
petunjuk “
5.
Melalui syi’ir (syair) arab. Artinya untuk mengetahui maksud dari
ayat ayat yang sukar pengertiannya itu dicari padanan pemakaian dan maknannya
dalam syair-syair Arab.
Sebagian ulama
menolaknya karena cara serupa itu menurut mereka berarti menjadikan syair
sebagai asal bagi Alqur’an sendiri tidak menyukai syair seperti tampak pada
kecaman dan celaannya terhadap para penyair yang mengubah syair tersebut
sebagaimana ditegaskan Allah dalam ayat 224-226 dari surat al-Syu’ara’ sebagai
berikut :
وَالشُّعَرَاءُ يَتْبَعُهُمْ الغَاوُوْنَ أَلمَ ْتَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ
يَهِمُوْنَ. وَأَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ مَا لاَ يَفْعَلُوْنَ (
الشعراء : 224-226 )
(Dan penyair penyair itu diikuti oleh orang orang yang sesat.
Tidaklah kamu melihat,
mereka mengembara
di tiap tiap lembah; dan mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak melakukannya)
Dalam surat Yasin ayat 69
ditegaskan pula bahwa Allah tak pernah mengajarkan syair kepada Nabi
Muhammad SAW dan tak pantas syair itu baginya ( َومَا عَلَمْنَاهُ الشِّعْرَ وَ مَا يَنْبَغِي
لَهُ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِيْنٌ
)
Namun sebagian besar ulama tetap
menjadikan syair sebagai salah satu cara dalam memahamai ayat ayat Alquran.
Cara serupa ini kata Abu Bakar bin al-Anbari sebagaimana dikutip
al-Suyuthi, banyak dilakukan oleh para sahabat Nabi dan tabi’in. Dalam konteks
ini Ibnnu Abbas berkata : “Syair (bagikan) kitab (diwan) bagi bangsa arab.
Dari itu apabiala sukar bagi kami memahami suatu kata dari Alqu’an yang
diturunkan Allah dalam bahasa Arab, maka kami akan kembali kepada diwan
itu (syair); lalu kami mencari pemahaman kata darinya”
Penegasan Ibnu Abbas ini mengandung makna bahwa para sahabat nabi tidak
menjadikan syair sebagai dasar dalam memahami suatu kata melainkan sekedar
media alat bantu dalam memahaminya. Kita mengetahui bahwa Alqur’an diturunkan
dalam bahasa Arab, dengan demikian, bahasa arab (syair) hanya berfungsi sebagai
alat untuk memahami ayat ayat tersebut. Jika demikaian maka tidak ada salahnya
bila kita menggunakan syair Arab untuk memahami Alqur’an selama tidak
menganggap syair tersebut sebagai asal dari Alqur’an melainkan hanya sekedar
memudahkan pemahaman. Sebagai contoh kata “ أَنْدَادًا “ yang terdapat dalam enam
tempat dalam Alqur’an yaitu ayat 22 dan 165 dari al-Baqoroh; ayat 30 dari
Ibrahim; ayat 33 dari Saba; ayat 8 dari al-Zumar dan ayat 9 dari al-Fushshilat.
Menurut Ibnu Abbas kata tersebut mengandung arti bandingan’ ( أَشْبَاهٌ وَأَمْثَالٌ) sebagaimana serupa itu
juga ditemukan dalam syair Arab seperti ucapan Habib bin Rabi’ah.
“اَحْمَدَ
اللهَ فَلاَ نِدَّالَهُ + بِيَدِيْهِ الْخَيْرُ ماَ شاَءَ فَعَلَ "
(Saya memuji Allah, tidak ada {teman}
sebanding bagi-Nya. Di tangannya terletak kebaikan, apa yang dikehandaki-Nya
pasti terjadi )
C.
Faedah
Mengetahui Gharaib Al- Qur’an
Banyak faedah yang dipetik dengan mengetahui dan mempelajari ayat ayat yang
ghaibat antara lainnya :
1. Mengundang tubuhnya penalaran ilmiyah.
Artinya dengan memelajari ayat ayat yang sulit pemahamannya itu akan melahirkan
berbagai ilmu baru dikalangan ulama muslim di dunia ini dan juga menumbuhkan
syaraf syaraf baru diotak para pemikir muslim. Jadi jika Alqur’an yang turun
itu hanya berisi ayat ayat yang biasa dan mudah dipahami maka kegiatan
penalaran ilmiah kurang termotifasi. Dengan demikian tidak akan lahir analisis
tajam. Akibatnya otak akan menjadi manja dan kurang berpikir.
2. Mengambil perhatian umat. Dengan diketahuinya
ke-gharaib-an ayat ayat Alqur’an, maka terasa secara mendalam ketinggian bahasa
yang di bawa oleh Alqur’an, baik lafalnya, maupun kandungan yang terkandung
didalamnya.
3. Memperoleh keyakianan terhadap eksistensi
Alqur’an sebagai kalam Ilahi. Dengan diketahui maksud yang terkandung dalam
ayat ayat yang gharibat maka diperoleh sesuatu pemahaman yang mendalam dari
ayat tersebut.
BAB
III
PENUTUP
Dari uraian dimuka, jela bagi kita bahwa untuk memahami dan menafsikan ayat
ayat yang gharibat diperlukan keluasan pengetahuan, tidak hanya tentang
‘ulum Alqur’an, melainkan juga hal-hal yang berhubungan dengan budaya, kondisi,
adat istiadat bangsa dan bahasa Arab, terutama yang ditemukan ketika
Alqur’an diturunkan. Tanpa mengetahui hal-hal tersebut tidak mustahil bagi kita
akan keliru dalam menafsirkan ayat ayat gharibat itu.
Belum ada tanggapan untuk "TAFSIR GHARAIB"
Post a Comment