MAKALAH KONSEP TURUN NYA AL QURAN DALAM TUJUH HURUF
A.
Pendahuluan
Bangsa Arab mempunyai aneka ragam dialek (lahjah) yang
timbul dari fitrah mereka. Setiap suku mempunyai format dialek yang tipikal dan
berbeda dengan suku-suku lain. Perbedaan dialek itu tentunya sesuai dengan
letak geografis dan sosio-kultural dari masing-masing suku. Namun demikian,
mereka telah menjadikan bahasa Quraish sebagai bahasa bersama (common
language) dalam berkomunikasi, berniaga, mengunjungi ka’bah, dan melakukan
bentuk-bentuk interaksi lainnya. Dari keyataan diatas, sebenarnya kita dapat
memahami alasan al-Qur’a>n diturunkan dengan menggunakan bahasa Qurraish.
Fenomena al-Qur’a>n sebagai mukjizat terbesar nabi
Muhammad saw ternyata bagaikan magnet yang selalu menarik minat manusia untuk
mengkaji dan meneliti kandungan makna dan kebenarannya. al-Qur’ặn yang
diturunkan atas ‘tujuh huruf’(sab’at ah{ru>f) menjadi polemik
pengertiannya di kalangan ulama’, polemik ini bermuara pada pengertian sab’ah
dan ah{ruf itu sendiri.
Kalau
ditelusuri, akar polemik ini bermula dari hadith Nabi Muhammad saw yang
berbunyi :
عنِ ابن عبّاسٍ رضيَ الله عنهما أن
رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلّم قال: (أقْرأني جبريلُ على حَرفٍ، فلم أزَل
اسْتزيدهُ حتّى انتهى إِلى سبعة أحرفٍ(.
“Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abba>s r.a, Rasulullah saw
bersabda : ” Jibri<l membacakan al-Qur’a>n kepadaku dengan satu huruf
kemudian aku mengulanginya (setelah itu) senantiasa aku meminta tambah sehingga
menambahiku sampai dengan tujuh huruf “.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Arti
Turunnya al-Qur’a>n dalam Tujuh Huruf
al-Ah}ruf (الأحرف)
adalah bentuk jamak dari h{arf (حرف)
ini mempunyai makna yang banyak :
1. H{arf
yang berarti ujungnya atau tepinya
H{urf / al-Ah{ruf yang berarti huruf istilah
dalam ilmu nahwu.
2. H{arf
yang bermakna puncak seperti (حرف
الجبل ) diartikan puncak gunung.
3. H{arf diartikan sebagai salah satu huruf
hijaiyyah.
Sedangkan yang dimaksud al-Qur’a>n diturunkan dengan
tujuh huruf adalah sebagai kelonggaran dan kemudahan bagi pembaca, sehingga
bisa memilih diantara bacaan-bacaan yang diinginkan, tapi bukan dimaksudkan
bahwa semua kalimah yang ada dalam al-Qur’a>n bisa dibaca dengan tujuh macam
bacaan, akan tetapi yang dimaksudkan tujuh bacaan yang berbeda itu pada
beberapa tempat yang beebeda-beda yang bisa dibaca sampai tujuh bacaan.
B. Dalil
al-Qur’a>n Diturunkan dengan Tujuh Huruf
Ada
beberapa dalil hadi>th yang menjelaskan bahwa al-Qur’a>n diturunkan
dengan tujuh huruf. Antara lain :
- حدّثَنا عبدُ
اللهِ بنُ
يوسُفَ أخبرَنا
مالكٌ عنِ
ابنِ شِهابٍ
عن عُروةَ
بنِ الزّبَيرِ عن عبدِ
الرحمنِ بنِ
عبدٍ القاريّ
أنهُ قال:
سمعتُ عمرَ
بنَ الخَطّابِ رضيَ اللهُ
عنهُ يقول:
«سمعتُ هشامَ
بنَ حَكيمِ
بنِ حِزامٍ
يَقرأُ سورةَ
الفُرقانِ على
غيرِ ما
أقرَؤها، وكان
رسولُ الله
صلى الله
عليه وسلّم
أقرَأَنيها، وكِدْتُ
أن أعجَلَ
عليه، ثمّ
أمهلتُهُ حتّى
انصَرَفَ، ثمّ
لبّبْتُهُ بردائِه
فجئتُ بهِ
رسولَ الله
صلى الله
عليه وسلّم
فقلتُ: إني سمعتُ
هذا يقرأُ
على غيرِ
ما أقرَأْتَنيها. فقال لي:
أرسِلْهُ. ثمّ قال
لهُ: اقرَأْ. فقرأَ. قال: هكذا أُنزِلَتْ. ثمّ قال
لي: اقرَأْ. فقرأتُ. فقال: هكذا أُنزِلَتْ، إنّ القرانَ
أُنزِلَ على
سبعةِ أحرُفٍ،
فاقرَؤوا منهُ
ما تَيسّرَ».
“Meriwayatkan yang lafazhnya dari Bukha>ri> bahwa;
“Umar bin H{atta>b berkata: “Aku mendengar Hisha>m bin H{aki>m membaca
surat al-Furqa>n di masa hidupya Rasulullah saw, aku mendengar bacaannya,
tiba-tiba ia membacanya dengan beberapa huruf yang belum pernah Rasulullah saw
membacakannya kepadaku sehingga aku hampir beranjak dari s{alat, kemudian aku
menunggunya sampai salam. Setelah ia salam aku menarik sorbannya dan bertanya:
“Siapa yang membacakan surat ini kepadamu?”. Ia menjawab: “Rasulullah saw yang
membacakannya kepadaku”, aku menyela: “Dusta kau, Demi Allah sesungguhnya
Rasulullah saw telah membacakan surat yang telah kudengar dari yang kau baca
ini”.
Setelah itu aku pergi membawa dia menghadap Rasulullah saw
lalu aku bertanya: “Wahai Rasulullah aku telah mendengar lelaki ini, ia membaca
surat al-Furqa>n dengan beberapa huruf yang belum pernah engkau bacakan
kepadaku, sedangkan engkau sendiri telah membacakan surat al-Furqa>n ini
kepadaku”. Rasulullah saw menjawab: “Hai ‘Umar! lepaskan dia. “Bacalah
Hisha>m!”. Kemudian ia membacakan bacaan yang tadi aku dengar ketika ia
membacanya. Rasululllah saw bersabda: “Begitulah surat itu diturunkan” sambil
menyambung sabdanya: “Bahwa al-Qur’an ini diturunkan atas tujuh huruf maka
bacalah yang paling mudah!”.
- حدّثنا مُحمَّدُ بْنُ عَبْدِ
اللّهِ بْنِ
نُمَيْرٍ . حَدَّثَنَا أَبِي.
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي
خَالِدٍ عَنْ
عَبْدِ اللّهِ
بْنِ عَيسَى
بْنِ عَبْدِ
الرَّحْمنِ بْنِ
أَبِي لَيْلَى
عَنْ جَدِّهِ
عَنْ أُبَيِّ
بْنِ كَعْبٍ
قَالَ: كُنْتُ فِي
الْمَسْجِدِ. فَدَخَلَ رَجُلٌ
يُصَلِّي. فَقَرَأَ قِرَاءَةٍ أَنْكَرْتُهَا عَلَيْهِ. ثُمَّ دَخَلَ
آخَرُ. فَقَرَأَ قِرَاءَةً سِوَى قِرَاءَةِ صَاحِبِهِ. فَلَمَّا قَضَيْنَا الصَّلاَةَ دَخَلْنَا جَمِيعاً عَلَى
رَسُولِ اللّهِ
. فَقُلْتُ: إِنَّ هذَا
قَرَأَ قِرَاءَةً أَنْكَرْتُهَا عَلَيْهِ. وَدَخَلَ آخَرُ
فَقَرَأَ سِوَى
قِرَاءَةِ صَاحِبِهِ. فَأَمَرَهُمَا رَسُولُ
اللّهِ فَقَرَآ.
فَحَسَّنَ النَّبِيُّ شَأْنَهُمَا. فَسُقِطَ فِي
نَفْسِي مِنَ
التَّكْذِيبِ. وَلاَ إِذْ
كُنْتُ فِي
الْجَاهِلِيَّةِ. فَلَمَّا رَأَى
رَسُولُ اللّهِ
مَا قَدْ
غَشِيَنِي ضَرَبَ
فِي صَدْرِي.
فَفِضْتُ عَرَقاً.
وَكَأَنَّمَا أَنْظُرُ إِلَى اللّهِ
عَزَّ وَجَلَّ
فَرَقاً. فَقَالَ لِي:
«يَا أُبَيُّ
أُرْسِلَ إِلَيَّ:
أَنِ اقْرَإِ
الْقُرْآنَ عَلَى
حَرْفٍ. فَرَدَدْتُ إِلَيْهِ: أَنْ هَوِّنْ
عَلَى أُمَّتِي. فَرَدَّ إِلَيَّ
الثَّانِيَةَ: اقْرَأْهُ عَلَى
حَرْفَيْنِ. فَرَدَدْتُ إِلَيْهِ: أَنْ هَوِّنْ
عَلَى أُمَّتِي. فَرَدَّ إِلَيَّ
الثَّالِثَةَ: اقْرَأْهُ عَلَى
سَبْعَةِ أَحْرُفٍ. فَلَكَ بِكُلِّ
رَدَّةٍ رَدَدْتُكَهَا مَسْأَلَةٌ تَسْأَلُنِيهَا. فَقُلْتُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ
لأُمَّتِي. اللَّهُمَّ اغْفِرْ
لأِمَّتِي. وَأَخَّرْتُ الثَّالِثَةَ لِيَوْمٍ يَرْغَبُ إِلَيَّ الْخَلْقُ كُلُّهُمْ. حَتَّى إِبْرَاهِيمُ ».
“Diriwayatkan dengan sanadnya dari Ubay bin Ka’ab ia
berkata: “Aku berada di masjid, tiba-tiba masuklah lelaki, ia shalat kemudian
membaca bacaan yang aku ingkari. Setelah itu masuk lagi lelaki lain membaca
berbeda dengan bacaan kawannya yang pertama”. Setelah kami selesai s{alat, kami
bersama-sama masuk ke rumah Rasulullah saw, lalu aku bercerita: “Bahwa si
lelaki ini membaca bacaan yang aku ingkari dan kawannya ini membaca berbeda
dengan bacaan kawannya yang pertama”. Akhirnya Rasulullah saw memerintahkan
keduanya untuk membaca.
Setelah mereka membaca Rasulullah saw menganggap baik
bacaannya. Setelah menyaksikan hal itu, terhapuslah dalam diriku sikap untuk
mendustakan, tidak seperti halnya diriku ketika masa Jahiliyyah. Nabi menjawab
demikian tatkala beliau melihat diriku bersimbah peluh karena kebingungan,
ketika itu keadaan kami seolah-olah berkelompok-kelompok di hadapan Allah Yang
Maha Agung.
Setelah melihat saya dalam keadaan demikian, beliau
menegaskan pada diriku dan berkata: “Hai Ubay! Aku diutus untuk membaca
al-Qur’a>n dengan suatu huruf lahjah (dialek)”, kemudian aku meminta pada
Jibril untuk memudahkan umatku, dia membacakannya dengan huruf kedua, akupun
meminta lagi padanya untuk memudahkan umatku, lalu ia menjawab untuk ketiga
kalinya. “Hai Muhammad, bacalah al-Qur’a>n dalam 7 lahjah dan terserah
padamu Muhammad apakah setiap jawabanku kau susul dengan pertanyaan permintaan
lagi”.
Kemudian aku menjawabnya: “Wahai Allah! Ampunilah umatku,
ampunilah umatku dan akan kutangguhkan yang ketiga kalinya pada saat dimana
semua makhluk mencintaiku sehingga Nabi Ibra>hi>m as”.
- حدثنا أَحْمَدُ بنُ مَنِيع
أخبرنا الْحَسَنُ بنُ مُوسَى
أخبرنا شَيْبَانُ عن عَاصِمٍ
عن زِرِّ
بنِ حُبَيْشٍ عن أُبيِّ
بنِ كَعْبٍ
، قالَ: «لَقِيَ رَسُولُ
الله جِبْرَيلَ، فَقَالَ: «يَا جِبْرَيلُ إِنِّي بُعِثْتُ إِلَى أُمَّةٍ
أُمِّيينَ مِنْهُمْ العَجُوزُ وَالشَّيْخُ الكَبِيرُ وَالغلاَمُ وَالْجَارِيَةُ وَالرَّجُلُ الَّذِي لَمْ
يَقْرَأْ كِتَاباً قَطُّ،» قالَ: يَا مُحمَّدُ إِنَّ القُرآنَ أُنْزِلَ عَلَى
سَبْعَةِ أَحْرُفٍ» .
قال أبو عيسى: هذا حديثٌ حسنٌ صحيحٌ
وقدْ رُوِي مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ عن أُبيِّ بنِ كَعْبٍ.
“Riwayat Ubay bin Ka’ab, ia mengatakan: “Rasulullah saw
berjumpa dengan Jibri>l di gundukan Marwah”. Ia (Ka’ab) berkata: “Kemudian
Rasul berkata kepada Jibri>l bahwa aku ini diutus untuk ummat yang ummy
(tidak bisa menulis dan membaca). Diantaranya ada yang kakek-kakek tua,
nenek-nenek bangka dan anak-anak”. Jibri>l menjawab: “Perintahkan, membaca
al-Qur’a>n dengan tujuh huruf”. Imam al-Turmudhy mengatakan: “Hadith ini
hasan lagi shahih”.
Dari beberapa hadits yang disebutkan di atas, Tidak terdapat nas sarih yang
menjelaskan maksud dari sab’ah ah{ruf. Sehingga menjadi hal yang lumrah
kalau para ulama’, berdasarkan ijtihadnya masing-masing, berbeda pendapat dalam
menafsirkan pengertiannya. al-Suyu>t{i> dalam kitabnya al-It{qa>n
fi> al-’Ulu>m al-Qur’a>n mengatakan bahwa perbedaan ulama’ dalam
masalah ini sekitar empat puluh pendapat. Perbedaan ulama’ mengenai pengertian sab’ah
ah{ruf ini tidak berasal dari tingkatan kualifikasi mereka atas
hadith-hadith tentang tema dimaksud. Perbedaan itu justru muncul dari lafaz{ sab’ah
dan ah{ruf yang masuk kategori lafaz{-lafaz} mushtarak, yaitu
lafaz{-lafaz{ yang mempunyai banyak kemungkinan arti, sehingga memungkinkan dan
mengakomodasi segala jenis penafsiran. Selain itu juga disebabkan adanya
fenomena historis tentang periwayatan bacaan al-Qur’a>n yang memang beragam.
C.
Perbedaan Pendapat Para Ulama’ Tentang Pengertian kata ” Ah{ruf Sab’ah ” dalam
Hadith
Disini
banyak sekali pertentangan dan perselisihan pendapat. Berikut ini akan
dikemukana sebagiannya seperti yang telah dijelaskan Dr. al-Sa>ih} ‘Ali>
H}usain dalam kitabnya Madkhal al-Dira>sa>t al-Qur’a>niyah,
sebagai beikut :
1.
Sebagian Ulama’ berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh
bahasa dari kalangan orang Arab dalam pengertian yang sama. Dengan pengertian
bahwa dialek orang-orang Arab dalam mengungkapkan suatu maksud itu
berbeda-beda, sedangkan al-Qur’a>n datang dengan menggunakan lafaz}-lafaz{
menurut dialek tersebut. Kalau saja terdapat perbedaan, niscaya, al-Qur’a>n
akan diturunkan dalam suatu lafaz{ saja. Adapun yang dimaksud tujuh bahasa
menurut pendapat tersebut adalah bahasa: Quraisy, Saqif, Hawazan, Kina>nah,
Tami>m, dan Yaman.
2.
Sebagian ulama’ lainnya mengatakan bahwa, yang dimaksud dengan tujuh huruf
ialah tujuh bahasa dari orang-orang Arab yang menjadi tempat al-Qur’a>n
diturunkan., dengan pengertian bahwa al-Qur’a>n secara keseluruhan tidak
keluar dari ketujuh bahasa tadi, yaitu : yang paling baik dikalangan Arab. Kebanyakan
bahasa yang dipakai oleh al-Qur’a>n adalah bahasa Quraish, adapula yang
Huzail, Saqi>f, Kina>nah, Tami>m dan Yaman.
3. Yang
dimaksud dengan Tujuh Huruf adalah tujuh macam di dalam al-Qur’an. Namun,
mereka berbeda pendapat dalam menentukan macam dan uslub pengungkapannya.
Diantara mereka ada yang manyatakan bahwa bagian yang dimaksud adalah: Amr,
Nahi>, Hala>l, Hara>m, Muhkan, Mutasha>bih dan “Amal. Sementara
itu, ulama’ lainnya mengatakan: Wa’ad, Wa’i>d, Hala>l, Hara>m,
Mawai<d, Ams}a>l, dan Ihtija>j. Pendapat lainnya mengatakan: Muhkam,
Mutasha>bih, Nasi>kh, Mansu>kh, Khusu>s, Umu>m dan Qas{as}.
4. Tujuh
huruf juga diartikan beberapa segi lafaz{ yang berbeda dalam satu kalimat dan
satu arti seperti lafaz: Halumma, Aqbil, Ta’al, Ajjil, Asri’, ilayya, qurbi
dan lain-lain. Lafaz{ yang tujuh tersebut memiliki satu pengertian yaitu
perintah “datanglah”.
5. Ada
juga yang mengartikan tujuh huruf dengan perbedaan dalam tujuh hal:
a.
Perbedaan nama-nama dalam bentuk Mufrad, Mudhakkar, dan cabang-cabangnya .
b. Perbedaan
dalam tasrifanya, dari bentuk Ma>d{i>, Mud}a>ri’, dan Amar.
c.
Perbedaan dalam ibdal (pergantian), baik berupa pergantian huruf dengan
huruf, atau lafaz{ dengan lafaz{.
d.
Perbedaan dalam Taqdi>m dan Ta’khi>r yang adakalanya bentuk
huruf, dan adakalanya bentuk kalimah.
e.
Perbedaan dari segi I’ra>b.
f.
Perbedaan dari segi penambahan dan pengurangan.
g.
Perbedaan lahjah yang cenderung ke bacaan Tafkhi>m (tebal) dan Tarqi>q
(tipis),
D. Analisa
Menurut mayoritas ulama’, pendapat yang mendekati kebenaran adalah
pendapat ke-empat yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah
tujuh bahasa. Seperti : Aqbil, Ta’al, Halumma, Ajjil, dan Asri’, Ilayya,
Qurbi> dan lain-lain. Lafaz{-lafaz} tersebut berbeda tapi tunggal
semakna. Pendapat ini didukung oleh Sufya>n bin ‘Uyaynah, Ibnu Jari>r,
Ibnu Waha>b dan masih banyak ulama’ lainnya.
Pendapat
ini juga didukung dengan hadith :
حدّثنا عبد الله حدَّثني أبي حدثنا
عفان حدثنا حماد بن سلمة أنبانا علي بن زيد عن عبد الرحمن بن أبي بكرة عن أبي بكرة
: «أن جبريل عليه السلام قال: يا محمد، اقرأ القرآن على حرف، قال ميكائل عليه
السلام: استزده، فاستزاده، قال: اقرأه على حرفين، قال ميكائيل: استزده، فاستزاده
حتى بلغ سبعة أحرف، قال: كل شاف كاف ما لم تختم آية عذاب برحمة، أو آية رحمة
بعذاب، نحو قولك تعال وأقبل، وهلم واذهب، وأسرع وأعجل».
“ Diriwayatkan dari Abi> Bakrah: ” Jibri>l Berkata :
Hai Muhammad aku akan bacakan al-Qur’a>n dengan satu huruf. Lalu
Mika>ii>l berkata: Tambahkan lagi untuknya. Jibri>l berkata: aku akan
menambahkannya dua huruf lagi. Kemudian Mika>ii>l berkata: Tambah lagi.
Akhirnya Jibri>l menambahnya sampai denga tujuh huruf. Rasulullah saw
bersabda : “Sesungguhnya al-Qur’a>n ini diturunkan dengan tujuh huruf, maka
bacalah semampunya dan tidak berdosa. Tetapi jangan sekali-kali mengakhiri dzikir
rahmat dengan ‘adza>b atas dzikir ‘adza>b dengan rahmat, seperti
ucapanmu: Ta’al, Aqbil, Halumma, Izhab, Asri’ dan A’jil“.
BAB III
KESIMPULAN
Dari penjelasan di atas, dapat
disimpulkan sebagai berikut:
-
- Maksud dari al-Ah}ruf
al-Sab’ah masih diperdebatkan dikalangan para ulama’, karena tidak adanya
nash yang sarih tentang makna sebenarnya al-Qur’a>n diturunkan dalam
tujuh huruf.
- Dari lima pendapat tentang
maksud tujuh huruf, yang paling dekat kebenarannya adalah pendapat keempat.
- Perbedaan-perbedaan dialek (lahjah)
itu membawa konsekuensi lahirnya bermacam-macam bacaan (qira’ah)
dalam melafalkan al-Qur’a>n. Dengan melihat beragamnya dialek,
sebenarnya bersifat alami (natural), artinya tidak dapat dihindari lagi.
Oleh karena itu, Rasulullah saw. sendiri membenarkan pelafalan
al-Qura>n dengan berbagai macam-macam qira’at.
- Qira’ah Sab’ah adalah Qira’at
yang dinisbatkan kepada imam yang tujuh dan masyhur.
- Tujuh imam yang masyhur adalah : Na>fi>`, Ibnu
Kathi>r, Abu> Amr, Ibnu ‘Amir, ‘As{im, H}amzah dan Kisa`i.
Manna’ al-Qattan, Maba>hith
fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n. 169
Ibnu
Mandur, Lisan al-’Arab, (Beirut: Dar Sadir,tt). CD.Mausu’ah
al-Mafahim.
Muhammad
Abdul ‘Adhim al-Zarqani, Manahil al-’Irfan, juz. 1. 489.
Ibid.
Abdul
Jalal H.A., Ulumul Qur’an, (Surabaya: Dunia Ilmu, 1998). 328
Hasbi
Ash-Siddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an/Tafsir, (Jakarta:
Bulan Bintang, 1990). 76.
Manna’
al-Qattan, Maba>hith fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n. 170.
Jala>l
al-Di>n al-Suyut{i>, al-Itqa>n fi ‘Ulu>m al-Qur’a>n, juz.
1. 75
Manna>’
al-Qatt{a>n, Maba>hith fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n. 180-185.
Lihat juga, Muhammad Abdul ‘Az{i>m al-Zarqa>ni>, Mana>hil
al-’Irfa>n, juz. 1., 535-544.
Belum ada tanggapan untuk "KONSEP TURUN NYA AL QURAN DALAM TUJUH HURUF "
Post a Comment