Friday, 11 April 2014

LINGKUNGAN EKSTERNAL : LINGKUNGAN KERJA TERHADAP PERUSAHAAN


BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang
Di dalam perkembangan organisasi sebuah perusahaan pastinya tidak lepas dari pengaruh internal dan eksternal dari perusahaan. Secara umum kebijakan manajemen dalam menentukan arah perusahaan juga akan sangat ditentukan oleh lingkungan perusahaan. Kondisi lingkungan perusahaan ini akan secara tidak langsung membantu manajemen untuk mengindentifikasi langkah apa yang akan ditempuh untuk menjalankan strategi perusahaan. Secara garis besar sebuah perusahaan akan dipengaruhi oleh lingkungan perusahaan dimana lingkungan tersebut dapat dibagi kedalam dua bagian besar, yaitu lingkungan eksternal dan lingkungan internal perusahaan.
Agar analisis pada lingkungan ini lebih dalam, kita kadang-kadang perlu melakukan Analis Industri. Isltilah “industry” di sini, bukanlah istilah yang lazimnya kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. “Industri” disini diartikan sebagai perusahaan-perusahaan yang memiliki produk relatif serupa. Jadi industry di sini bukan “perusahaan manufaktur”.
Dalam lingkungan kerja, kita akan sering bersigungan dengan pembahasan tentang persaingan. Persaingan dalam manajemen strategic, selain berkaitan dengan pelaku yang saling bersaing dan pelanggan, juga diartikan lebih luas yakni terkait dengan pelanggan, pemasok, pemain lain yang akan masuk, dan produk subtitusi.
B.     Manfaat dan Tujuan
Tujuan dari penuisan makalah ini adalah membantu para pembaca untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang analisis eksternal : lingkungan kerja terhadap perusahaan, sehingga para pembaca tidak hanya membaca saja tetapi berharap untuk lebih mengetahui lagi apa itu yang dimaksud dengan analisis eksternal : lingkungan kerja terhadap perusahaan. Dan mengetahui bagaimana cara bekerja analisis eksternal : lingkungan kerja terhadap perusahaan di Indonesia.
Maksud dari penulisan makalah ini untuk melengkapi tugas dalam mata kuliah manajemen strategi dengan Dosen Pengampu yaitu Asmara Yudha, ST, MM





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Analisis Industri
Industri dalam istilah manajemen strategic dalah kelompok perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang atau jasa yang serupa. Dalam menganalisis industri, kita juga menganalisis kelompok stakeholder terdekat, seperti pemasok dan pelanggan.
Setelah analisis ini lita lakukan, kita akan dapat menyimpulkan sejauh mana satu industri masih menarik untuk menjalankan bisinis atau dimasuki oleh sebuah perusahaan baru. Ditinjau dari sisi perusahaan yang mempertimbangkan akan masuk ke dalam suatu industri, senakin kuat ancaman pelaku baru, ancaman produk sibtitusi, daya tawar pembeli dan daya tawar pemasok, intensitas persaingan, semakin kurang menarik industriny untuk dimasuki.
Berikut adalah hal-hal yang harus dilihat atau menjadi dasar analisis kekuatan lima factor menurut konsep Michael E. Porter :
1.             Ancaman Pelaku Bisnis Baru
Bila sebuah perusahaan masuk kedalam sebuah industry, maka secara otomatis perusahaan yang sudah akan terancam, karena: ada kapasitas baru yang bertambah, serta kemungkinan digerogotinya pangsa pasar yang ada, dan akan membuat tambahan permintaan passokan atas sumber daya seperti SDM, ataupun bahan baku. Semua ini akan mengganggu perusahaan-perusahaan yang sudah ada terlebih duludi dalam industry. Karena itu, semakin tinggi potensi pelaku baru masuk, semakin tinggi potensi ancaman yang akan dihadapi oleh pelaku yang ada didalamnya.
Pemain baru dari sebuah industry selalu membawa kapasitas baru dan harapan untuk mengambil pangsa pasar dengan menekan harga, biaya, dan tingkat investasi yang diperlukan. Biasanya, mereka yang sudah punya kapasitas dipasar yang lain, punya daya ungkit untuk menggoyankan persaingan.
Menurut Michael Porter, anacaman pendatang baru dapat ditentukan paling tidak oleh hal-hal sebagai berikut.
a.    Skala ekonomis. Artinya, skala ekonomis yang dituntut untuk pelaku yang ingin berkiprah bias penyurutkan pihak yang akan masuk. Untuk mendirikan sebuah maskapai penerbangan, misalnya, skala ekonomis yang terjadi adalah pada tingkat setiap perusahaan memiliki minimal 5 pesawat dengan 10 tujuan penerbangan. Bagi perusahaan dengan kemampuan dibawah itu, tentu harus mengurungkan niatnya menjadi pelaku maskapai.
b.    Diferensiasi produk. Hal berikutnya yang sangat menentukan potensi adanya pelaku baru adalah diferensiasi. Diferensiasi ini adalah bagaimana strategi perusahaan untuk dapat dianggap berbeda oleh konsumennya dari pelaku yang lain. Kaitannya dengan potensi masuknya pelaku baru adalah pelaku baru dituntut untuk kekhasan yang membuat dirinya berbeda. Kekhasan ini bias dari segi pilihan produk, strategi pemasaran, strategi operasi, dan lain sebagainya.
2.             Ancaman Produk Subtitusi
Pada dasarnya, persaingan yang harus didapi oleh sebuah perusahaan, bukanlah kepada perusahaan yang memiliki produk yang persis sama. Sering kali perusahaan harus berhadapan dengan perusahaan-perusahaan yang produknya merupakan subtitusi dari produk prusahaan pertama. Misalnya saja, untuk menbuat minyak goreng, bahan baku subtitusi selain dengan minyak sawit, sering digunakan minyak matahari. Selain minum susu yang berasal dari sapi, orang minum susu yang berasal dari kacang kedelai.
Seperti juga kita lihat pada ancaman produk baru, ancaman produk subtitusi juga memiliki beberapa kondisi, misalnya:
a.       Skala ekonomis. Penjelasanya sama dengan penjelasan ancaman pendatang baru diatas.
b.      Akses ke saluran distribusi. Biasanya, produk yang sudah ada telah memiliki akses distribusi. Para penyalur begitu loyal dan kuat hubunganya dengan perusahaan yang sudah ada sehingga tidak begitu mudah untuk ditembus oleh produk yang menjadi subtitusi.

3.             Daya Tawar-Menawar Pembeli
Pembeli yang memiliki daya tawar-menawar yang tinggi, dapat mengancam daya saing perusahaan. Pembeli ini biasyanya bias memaksa perusahaan untuk menurunkan harga untuk menuntut meningkatkan kualitas/jasa, dan lain. Pembeli/kelompok pembeli, biasanya Pembeli yang membeli dalam jumlah yang besar, alternatif pemasok yang banyak, biaya perubahan saat pindah pemasok kecil, dan lain-lain.
4.             Daya Tawar-Menawar Pemasok
Kebalikan dari daya tawar-menawar pembeli, adalah daya tawar pemasok. Bila pemassok memiliki daya tawar yang semakin kuat, maka dapat dikatakan semakin kurang menarik industri nya. Ini biasanya, terjadi pada industri yang pemasoknya tergolong sedikit, yaitu hanya beberapa perusahaan yang ada dalam industri, relatif tidak banyak alternatif untk mendapatkan pasokan tertentu. Untuk kasus Indonesia, kita bisa katakan dominasi PLN terhadap perusahaan-perusahaan di Indonesia sangat kuat, sehingga dalam hal ini bisa dikatakan daya tawar PLN tinggi terhadap perusahaan-perusahaan yang ada dalam berbagai industri. Dengan kekuatan daya tawarnya, pemasok bisa saj membatasi layanan atau mengganti biaya kepartisipan dalam industri. Biasanya daya tawar kelompok pemasok kuat jika:
a.    Hanya didominasi oleh sedikit perusahaan, sementara industri pembelinya beragam.
b.    Industri pembeli bukan merupakan pelanggan penting dari kelompok pemasok.
c.    Produk pemaok merupakan input penting bagi pembeli.
Semakin tinggi daya tawar pemasok, maka semakin rendah daya tarik sebuah industri.
5.             Tingkat Persaingan dalam Industri
Tindakan-tindakan perusahaan dalam sebuah industri selalu saling terkait. Strategi-strategi yang dijalankan oleh suatu perusahaan selalu membawa pengaruh kepada intesitas persaingan. Semakin tinggi intinsitas persaingan, tentu saja semakin kurang menarik satu industri. Kurang menarik bagi mereka yang ada di dalamnya, juga yang ada diluarnya bila ingi berpikiran masuk di dalamnya.
Daya tarik industri, adalah kesimpulan yang dapat kita lakukan analisis lima Kekuatn Porter. Dari sisi pelaku yang sudah ada dalam industri, analisis menyimpulkan “industri masih menarik” harus menjadi dasar bagi perusahaan untuk meningkatan pendapatan, mempertinggi profitabilitas, atau alasan untuk tumbuh lainnya (misalnya membuka cabang baru, menambah kapasitas, membuka bisnis baru dan lain-lain).
B.            Key Success Factor dalam Industri
Saat melakukan analisis kita juga harus memahami apa sesungguhnya yang menjadi faktor sukses kunci (Key Success Factor). KSF adalah variabel yang sangat mempengaruhi posisi bersaing perusahaan secara keseluruhan dalam satu industri tertentu. Misalnya, dalam bisnis perbankan, unsur layanan adalah KSF-nya. Layanan dan kramahan menjadi kunci sukses sebuah bank. Begitu pula unsur teknologi perbankan. Bank-bank yang tidak kuat dalam teknologi informasinya akan terbatas dengan layanannya. Dalam dunia pendidikan tinggi, kualitas mahsiswa yang masuk sangat menjadi kunci sukses, begitu pula dengan mutu dosen yang mengajar. KSF bagi perusahaan ritel modern adalah jaringan distribusi yang kua dan teknologo distribusi. Begitu pula skala ekonomis. Semakin banyak cabangnya, semua minimarket akan dapat beroperasi lebih efesien. Biasanya, perusahaan-perusahaan yang terkemuka dalam industri nya, selalu menguasai hal-hal yang menjadi fakto sukses ini.





BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Definisi yang populer mengidentifikasi lingkungan sebagai segala sesuatu yang berada di luar batas organisasi. Secara garis besar sebuah perusahaan akan dipengaruhi oleh lingkungan perusahaan dimana lingkungan tersebut dapat dibagi kedalam dua bagian besar, yaitu lingkungan eksternal dan lingkungan internal.Lingkungan eksternal itu kemudian dapat dibagi juga kepada dua bagian besar yaitu lingkungan eksternal umum dan lingkungan eksternal khusus (industri).Pembagian ini terletak dari jauh dekatnya pengaruh yang ditimbulkan kepada organisasi perusahaan. Pada lingkungan eksternal umum mencakup beberapa aspek seperti: ekonomi, sosial, politik, hukum dan demografi. Seluruhnya merupakan kebijakan ekonomi makro yang nantinya akan mengerucut menjadi ekonomi mikro.
Pengaruh hal-hal tersebut terhadap organisasi perusahaan akan sangat signifikan terutama dalam menjalankan arah perusahaan guna mengatasi masalah yang mungkin timbul dari faktor eksternal tersebut. Sementara faktor lingkungan eksternal industri, lebih ditekankan pada aspek yang lahir dari hubungan antara perusahaan dengan kompetitor yang mengakibatkan perkembangan pasar akan terus bergerak dinamis dan pergerakan ini akan mau tak mau diikuti perusahaan dalam rangka menguasai dan mempertahankan pasar yang dimilikinya. Faktor eksternal industri ini akan melahirkan kebijakan perusahaan dalam menyiasati perkembangan pasar dan keinginan konsumen.



No comments:

Post a Comment