Friday, 12 April 2013

Perubahan Fungsi Uang dalam Ekonomi Islam



Perubahan Fungsi Uang
Fungsi uang sebagai medium of exchange dapat digunakan dan diterima sebagai alat pembayaran. Sebelum ditemukan koin, komoditi seperti hewan ternak berfungsi sebagai uang, begitu juga juga dengan logam seperti emas dan perak yang digunakan pada masa lampau. Pada masa Islam, Abdul Malik bin Marwan (65-86 H/685-705 M), seorang Khalifah dari Dinasti Umayyah, mengganti koin emas (dinar) Bizantium da perak (dirham) Persia yang mempunyai berat yang berbeda dengan koin Islam yang bernilai sama dengan unit of account.























Ada tiga tahap perkembangan fungsi uang, yaitu commodity money, token money, dan deposit money.
1.      Commodity money
Kita dapat mendefenisikan commodity money sebagai medium of exchange yang mempunyai nilai komoditi apabila komoditi tersebut di gunakan bukan sebagai uang. Sebagai medium of exchange terdapat tiga hal penting yang harus di perhatikan:
a.       Kelangkaan (Scarcity)
Supply dari medium of exchange harus lah terbatas. Apabila tidak, maka nilai pertukaran dari komoditi tersebut tidak ada.
b.      Daya tahan (durability)
Jelas bahwa medium of exchange harus tahan lama dan hal ini berhubungan dengan fungsi ketiga dari uang secara konvensional yaitu sebagai store of value.
c.       Nilai tinggi
Sebagai medium of exchange sangatlah nyaman apabila unit tersebut mempunyai nilai tinggi sehingga tidak membutuhkan jumlah yang banyak (kuantiti) dalam melakukan transaksi.
Perkembangan perdagangan dan skala bisnis yang semakin tinggi melebihi kemampuan uang sebagai bentuk efesien untuk transaksi keuangan yang besar, maka akan digunakan bentuk lain dari uang.
2.      Token money
Goldsmith (orang yang meminjamkan uang) dara para banker menyadari bahwa meminjam komoditi (seperti emas dan perak) dan kemudian mengeluarkan tanda penerimaan (receipt) akan menghasilkan keuntungan. Mereka akan memberikan bunga atas deposit koin emas dan perak. Apabila harga emas batangan naik dan beli koin turun, maka mereka dapat  melebur koin tersebut menjadi bentuk batangan. Ini adalah contoh pertama dalam sejarah moneter inggris mengenai token money dari aktivitas lembaga keuangan.
3.      Deposit money
Semakin pesatnya pertumbuhan industry dalam rangka memenuhi kebutuhan yang semakin meningkat, mengakibat kan semakin tingginya kebutuhan uang dalam jumlah besar, misalnya untuk keperluan pembangunan pabrik, pembelian mesin, pembelian bahan baku dalam jumlah besar dll. Untuk itu dibutuhkan perubahan di bidang keuangan, terutama tentang cara pembayaran. Banyak para pengusaha membayar tagihan mereka dengan menggunakan cheques.
Menurut Irving Fisher (1867-1947), cheque bukan uang, tetapi hanya merupakan order tertulis (written order) untuk mentransfer uang. Transfer belum mempengaruhi bank deposit si pengirim sampai uang tersebut  dicairkan. Pada waktu bank member pinjaman kepada seseorang, bank tidak memberikannya dalam bentuk tunai (cash). Bank akan membuka account atas nama orang tersebut dengan jumlah uang  senilai pinjaman. Dengan demikian, bank membuat uang baru (deposit), melebihi dan di atas notes dan coins (token atau legal money) yang di buat oleh pemerintah. Hal ini menunjukan bahwa perkembangan penting yang telah mengubah perbankan modern adalah kemampuan bank deposit untuk mengubah “purveyors of money” menjadi “creator of money”.    

No comments:

Post a Comment