Thursday, 25 October 2012

TAFSIR GHARAIB


BAB I
PENDAHULUAN

            Dalam Al Qur’an ada ayat-ayat yang sukar pemahamannya , adalah suatu kenyataan yang sulit di bantah. Mengkaji hal itu secara ilmiah dan mendalam amat penting agar terhindar dari penafsiran dan pemahaman yang keliru. Kondisi ayat yang demikian telah menarik perhatian ulama tafsir dimasa lampau. Diantaranya karangan al-Isfahani. Namun tulisan pakar tersebut tenatang permasalahan ini, tidak membicarakan cara memahami ayat-ayat sukar tersebut melainkan secara langsung memberikan pejelasan atau penafsirannya. Pada hal ini kita akan membicarakan tntang ilmu tafsir bukan menafsirkan sebagaimana mereka. Dalam hal ini ada sebuah hadist dari Abu Hurairot yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi
" أَعْرِبُوْا الْقُرْآنَ وَ التَّمِسُوْا غَرَائِبَهُ "
(Terangkanlah makna-makna yang terkandung didalam Alqur’an dan carilah peringatan kata kata yang sukar)

Jadi yang dikaji disini ialah ilmu tentang menafsirkan “gharaib” Alqur’an , bukan menafsirkan ayat ayat Alqur’an yang sukar dalam Alqur’an









BAB II
PEMBAHASAN
A.   Pengertian
            Lafal gharib berasal dari bahasa Arab, yakni jamak dari gharibah yang berarti asing atau sulit pengertiannya. Apabila di hubungkan dengan Alqur’an maka yang dimaksud dengannya ialah ayat ayat Alqur’an yang sukar pemahamannya sehingga hampir-hampir tak dimengerti seperti kata (   اباَّ) dalam ayat 31 surat Abassa ( وَفَاكِهَةَ وَ اَبَّا  ) Jangankan kita yang bukan bangsa arab, bahkan orang Arab asli dan sahabat Rasulullah tak paham maksud kata tersebut. Contoh ketika Abu bakar ditanya tentang ayat tersebut beliau menjawab “ Mana langit yang akan menaungiku, dan mana bumi tempatku berpijak, bila kukatakan sesuatu yang tidak aku ketahui dalam kitab Allah? “.
            Cuplilkan peristiwa di atas dapat dijadikan bukti bahwa dalam Alqu’an memang ada ayat ayat yang sukar dipahami. Ayat-ayat yang serupa itulah yang dimaksud gharaib Alqur’an.

B.   Cara Menafsirkanya
            Permasalahan ini menjadi problema setelah wafatnya Rasulullah, karena sebelum rasul meninggal permasalahan kembalinya ke rasul. Namun sebelum wafat beliau telah meninggalkan dua pusaka Alqur’an dan Hadist. Nabi menjamin sepenuhnya siapa saja yang berpegang kepada keduanya niscaya tidak akan sesat selama-lamanya.
( تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّتِى ) (رواه الحكم )                                                Secara teoris kembali keada Alqur’an dan Sunnah boleh disebut tidak ada masalah; tapi problema segera muncul dan terasa sekali memberatkan pikiran ketika teori itu akan diterapkanuntuk memecahkan berbagai kasus yang terjadi dimasyarakat. Dalam hal ini tidak terkecuali permasalahan tafsir seperti kasus yang dihadapkan kepada Abu Bakar yang telah dikutip di atas.
            Ketika Nabi masih hidup perasalahan tafsir serupa itu belum sempat ditanyakan; lalu beliau wafat sementara ayat-ayat yang gharaib belum sempat dijelaskan pengertiannya. Oleh karenanya cara yang ditempuh ulama dalam memahminya ialah sebagai berikut:
1.      Menafsirkan Alqur’an dangan Alqur’an
2.      Jika tidak ada dalam Alqur’an maka dicari dalam Sunnah;
3.      Kalau tidak juga ditemukan, maka dicari dalam atsar (pendapat) sahabat.
4.      Jika masih belum dijumpai. Maka dicari dalam pendapat para sahabat  dan tabi’in.

Contoh : Kata )  ظُلْمٍ) didalam ayat 82 dari al-An’am :
الّذِيْنَ ءَامَنُوْا وَلمَ ْيَلْبِسُوْا إِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُوْلئِكَ لَهُمْ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُوْنَ. (الأنعام                                                                                               
            Pemakaian kata zhulm dalam konteks ayat itu terasa membawa pemahaman yang asing dan seakan akan tidak cocok dangan kenyataan sebab hampir tak ditemukan orang-orang yang beriaman yang tak melakukan kezhaliman. Jika demikian halnya tentu tak ada orang beriman yang akan tentram hidupnya dan mereka tak akan mendapat petunjuk, atau dengan perataan lain percuma mereka beriman jika mereka tak akan selamat karena teramat sukar bagi mereka untuk membebaskan diri mereka sepenuhnya dari kezhaliman.


            Oleh karena itu, sahabat bertanya kepada Raul Allah; lalu rasul menafsirkan kata zhulm dalam ayat itu dengan syirik berdasarkan ayat 13 dari surat Luqman                                                                                  
   "لاَ تُشْرِكُ بِاللهِ إِنْ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ "
(Jangan kamu mensekutukan Allah, seungguhnya syirik itu ialah kezaliman yang besar )
            Dari penjelasan Nabi itu diketahuilah bahwa kata zhulm dalam ayat itu berarti syirik bukan kezhaliman biasa. Berdasarkan penjelasan nabi maka ayat 82 dari An’am diterjemahkan sebagai berikut “Orang orang yang beriman dan tidak mencampuradukan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka adalah orang orang yang mendapat petunjuk “


5.      Melalui syi’ir (syair) arab. Artinya untuk mengetahui maksud dari ayat ayat yang sukar pengertiannya itu dicari padanan pemakaian dan maknannya dalam syair-syair Arab.








Sebagian ulama menolaknya karena cara serupa itu menurut mereka berarti menjadikan syair sebagai asal bagi Alqur’an sendiri tidak menyukai syair seperti tampak pada kecaman dan celaannya terhadap para penyair yang mengubah syair tersebut sebagaimana ditegaskan Allah dalam ayat 224-226 dari surat al-Syu’ara’ sebagai berikut :
    وَالشُّعَرَاءُ يَتْبَعُهُمْ الغَاوُوْنَ أَلمَ ْتَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِمُوْنَ. وَأَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ مَا لاَ يَفْعَلُوْنَ    ( الشعراء : 224-226 )                                                                         
             (Dan penyair penyair itu diikuti oleh orang orang yang sesat. Tidaklah kamu melihat, mereka           mengembara di tiap tiap lembah; dan mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak melakukannya)
           Dalam surat Yasin ayat 69 ditegaskan pula bahwa  Allah tak pernah mengajarkan syair kepada Nabi Muhammad SAW dan tak pantas syair itu baginya          ( َومَا عَلَمْنَاهُ الشِّعْرَ وَ مَا يَنْبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِيْنٌ )                     
  
Namun sebagian besar  ulama tetap menjadikan syair sebagai salah satu cara dalam memahamai ayat ayat Alquran. Cara serupa ini kata  Abu Bakar bin al-Anbari sebagaimana  dikutip al-Suyuthi, banyak dilakukan oleh para sahabat Nabi dan tabi’in. Dalam konteks ini Ibnnu Abbas berkata : “Syair (bagikan) kitab (diwan) bagi bangsa arab. Dari itu apabiala sukar bagi kami memahami suatu kata dari Alqu’an yang diturunkan  Allah dalam bahasa Arab, maka kami akan kembali kepada diwan itu (syair); lalu kami mencari pemahaman kata darinya”




         Penegasan Ibnu Abbas ini mengandung makna bahwa para sahabat nabi tidak menjadikan syair sebagai dasar dalam memahami suatu kata melainkan sekedar media alat bantu dalam memahaminya. Kita mengetahui bahwa Alqur’an diturunkan dalam bahasa Arab, dengan demikian, bahasa arab (syair) hanya berfungsi sebagai alat untuk memahami ayat ayat tersebut. Jika demikaian maka tidak ada salahnya bila kita menggunakan syair Arab untuk memahami Alqur’an selama tidak menganggap syair tersebut sebagai asal dari Alqur’an melainkan hanya sekedar memudahkan pemahaman. Sebagai contoh kata “ أَنْدَادًا “ yang terdapat dalam enam tempat dalam Alqur’an yaitu ayat 22 dan 165 dari al-Baqoroh; ayat 30 dari Ibrahim; ayat 33 dari Saba; ayat 8 dari al-Zumar dan ayat 9 dari al-Fushshilat. Menurut Ibnu Abbas kata tersebut mengandung arti bandingan’ ( أَشْبَاهٌ وَأَمْثَالٌ) sebagaimana serupa itu juga ditemukan dalam syair Arab seperti ucapan Habib bin Rabi’ah.
اَحْمَدَ اللهَ فَلاَ نِدَّالَهُ + بِيَدِيْهِ الْخَيْرُ ماَ شاَءَ فَعَلَ "
(Saya memuji Allah, tidak ada {teman} sebanding bagi-Nya. Di tangannya terletak kebaikan, apa yang dikehandaki-Nya pasti terjadi )

C.   Faedah Mengetahui Gharaib Al- Qur’an

         Banyak faedah yang dipetik dengan mengetahui dan mempelajari ayat ayat yang ghaibat antara lainnya :
1. Mengundang tubuhnya penalaran ilmiyah. Artinya dengan memelajari ayat ayat yang sulit pemahamannya itu akan melahirkan berbagai ilmu baru dikalangan ulama muslim di dunia ini dan juga menumbuhkan syaraf syaraf baru diotak para pemikir muslim. Jadi jika Alqur’an yang turun itu hanya berisi ayat ayat yang biasa dan mudah dipahami maka kegiatan penalaran ilmiah kurang termotifasi. Dengan demikian tidak akan lahir analisis tajam. Akibatnya otak akan menjadi manja dan kurang berpikir.
2. Mengambil perhatian umat. Dengan diketahuinya ke-gharaib-an ayat ayat Alqur’an, maka terasa secara mendalam ketinggian bahasa yang di bawa oleh Alqur’an, baik lafalnya, maupun kandungan yang terkandung didalamnya.
3. Memperoleh keyakianan terhadap eksistensi Alqur’an sebagai kalam Ilahi. Dengan diketahui maksud yang terkandung dalam ayat ayat yang gharibat maka diperoleh sesuatu pemahaman yang mendalam dari ayat tersebut.



















BAB III
PENUTUP

         Dari uraian dimuka, jela bagi kita bahwa untuk memahami dan menafsikan ayat ayat yang gharibat diperlukan keluasan  pengetahuan, tidak hanya tentang ‘ulum Alqur’an, melainkan juga hal-hal yang berhubungan dengan budaya, kondisi, adat istiadat bangsa dan bahasa Arab, terutama yang ditemukan ketika  Alqur’an diturunkan. Tanpa mengetahui hal-hal tersebut tidak mustahil bagi kita akan keliru dalam menafsirkan ayat ayat gharibat itu.

No comments:

Post a Comment