Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2I6kr0OyB
Selamat datang di Blog Royan Zulfan "royanmakalah.blogspot.com". Jika anda ingin mengcopy paste makalah ini saya sarankan anda untuk mentransfer uang sebesar Rp. 20.000,00 ke rekening 328201001428507 BANK BRI ATAS NAMA ROYAN BASTIAN, setelah itu anda bisa menghubungi nomor HP. (085355476373). Selain dari itu anda bisa mengklik link ini http://www.cashforvisits.com/index.php?refcode=325937 dan anda harus menregister untuk menjadi member. Terima Kasih semoga blog ini bisa membantu anda.

Rabu, 24 Oktober 2012

MENGHAYATI DAN MENGAMALKAN NILAI-NILAI PANCASILA



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Untuk mewujudkan ketahanan nasional Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak terlepas adanya ketahanan di bidang Ideologi. Ketahanan di bidang ideologi bangsa Indonesia ditujukan untuk mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan serta gangguan, baik yang datang dari dalam maupun dari luar, baik secara langsung maupun tidak langsung yang membayakan kelangsungan kehidupan Pancasila sebagai dasar dan ideologi Negara.
        Keampuhan Pancasila sebagai ideologi Negara tergantung kepada nilai-nilai yang dikandungnya yang dapat memenuhi serta menjamin segala aspirasi hidup dan kehidupan manusia, baik secara pribadi, sebagai makhluk sosial maupun sebagai warga Negara sebagai kodrat dan irodat Tuhan Yang Maha Esa. Rangkaian nilai tersebut tidak identik dengan agama, tetapi mempunyai keterkaitan yang erat, bahkan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Rangkaian nilai tersebut adalah kongkretisasi dari ajaran semua agama dan berfungsi sebagai pemersatu kehidupan antarumat beragama yang menciptakan kekuatan keagamaan, baik secara mental maupun spiritual di dalam Ketahanan Nasional.
B.    Maksud dan Tujuan
Maksud penyusunan naskah ini untuk memberikan gambaran tentang kondisi masyarakat Indonesia terhadap penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar dan ideologi di tengah arus dinamika global,  dengan tujuan sebagai salah satu masukan atau sumbang saran kepada Pemerintah dalam menentukan kebijakan yang berkaitan dengan strategi pembinaan masyarakat dalam menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara guna tetap menjaga kedaulatan NKRI.










BAB II
PEMBAHASAN
“KONDISI MASYARAKAT DALAM MENGHAYATI DAN MENGAMALKAN
NILAI-NILAI PANCASILA YANG DIHARAPKAN

A.    Analisis Masalah

a.      Umum 
Penyelenggaraan pembinaan masyarakat dalam penghayatan dan pengamalan terhadap nilai-nilai Pancasila terutama guna menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia sangat mutlak diperlukan. Hal tersebut dapat terwujud apabila pandangan seluruh komponen bangsa dan elemen masyarakat telah terjalin dengan solid adanya pemahaman dan penghayatan terhadap nilai-nilai Pancasila dalam pemahaman adanya wawasan kebangsaan yang terintegrasi dalam setiap nurani dan jiwa setiap insan sesuai yang diharapkan.
b.      Kondisi   Masyarakat Yang Diharapkan    
Dalam pemahaman dan penghayatan terhadap nilai-nilai Pancasila terutama dalam wawasan kebangsaan tidak hanya merupakan tuntutan bagi bangsa dalam mewujudkan jati diri atau identitasnya saja, melainkan juga pembinaan tata lakunya sebagai suatu bangsa yang meyakini nilai-nilai hakiki yang dimilikinya. Cara pandang yang berwawasan nusantara pada masa-masa mendatang harus ditingkatkan pada diri setiap anak bangsa, karena kita tidak ingin lagi menyaksikan berbagai komponen bangsa ini terlibat konflik serta terjebak dalam sekat-sekat primordialisme dan serpihan-serpihan golongan suku, ras, agama, daerah  maupun kepentingan yang lebih sempit dan bersifat sektoral.   Tidak ada lagi ada sekelompok anak bangsa yang rela dan dengan rasa tidak bersalah mengenyampingkan kepentingan persatuan dan kesatuan bangsa hanya untuk mendapatkan popularitas murahan, kedudukan ataupun materi.  
Guna mewujudkan kondisi seperti ini, maka harus ditingkatkan ikatan nilai-nilai kebangsaan yang selama ini telah ada dalam diri setiap anak bangsa yang merupakan perwujudan dari rasa cinta tanah air, bela negara dan semangat   25patriotisme bangsa. Nilai-nilai budaya gotong royong, kesediaan untuk saling menghargai dan saling menghormati perbedaan serta kerelaan berkorban untuk kepentingan bangsa harus dipertebal. Dengan demikian diharapkan tidak akan ada lagi berkembangnya  kesadaran  etnis yang sempit serta tuntutan pemisahan wilayah dari NKRI dengan  mengatasnamakan   ketidakadilan   yang  telah   dilakukan    oleh    kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab.   



Wawasan Kebangsaan yang telah ada dalam diri setiap anak bangsa harus ditingkatkan, agar Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat kita cintai ini tetap terjaga keutuhannya, bahkan sudah final yang merupakan harga mati dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.
        Nasionalisme merupakan salah satu unsur dalam pembinaan kebangsaan atau  nation building.    Dalam proses pembinaan kebangsaan semua anggota masyarakat bangsa dibentuk agar berwawasan kebangsaan serta berpola tata-laku secara khas yang mencerminkan budaya maupun ideologi. Proses pembinaan kebangsaan berbeda bagi tiap bangsa dan bagi bangsa Indonesia yang plural dan heterogen akan lebih mengedepankan Wawasan Kebangsaan yang unsur-unsurnya adalah Rasa Kebangsaan, Paham Kebangsaan dan Semangat Kebangsaan yang harus dibina secara berlanjut dan sinergis, karena letak kekuatan penangkalannya justru di dalam kesinergisannya. 
1.      Rasa Kebangsaan  
Rasa Kebangsaan merupakan suatu perasaan rakyat, masyarakat dan bangsa terhadap kondisi bangsa Indonesia dalam perjalanan hidupnya menuju cita-cita bangsa yaitu masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.   Rasa Kebangsaan yang membara dapat dijadikan modal dasar bagi upaya untuk membuat masyarakat bangsa dihormati dan disegani oleh bangsa lain di dunia.  
Dengan semakin meningkatnya Rasa Kebangsaan pada seluruh komponen bangsa Indonesia, akan  menjadikan semakin kuatnya nilai-nilai perekat persatuan dan kesatuan bangsa.  Rasa Kebangsaan itulah yang menumbuhkan internalisasi satu masyarakat yang didambakan (imagined society) dalam Negara Kesatuan   26Republik Indonesia. Rasa Kebangsaan akan tumbuh subur dan berkembang melalui proses sinergi dari berbagai individu (warga negara) yang berada dalam wilayah NKRI, kemudian satu  sama lain saling menguatkan dan melahirkan ciri atau identitas bangsa.   Keyakinan dan pengakuan terhadap ciri atau identitas bangsa merupakan perwujudan dari rasa kebangsaan itu sendiri.  Bagi bangsa Indonesia, rasa kebangsaan merupakan perekat paling dasar dari setiap komponen bangsa yang karena sejarah dan budayanya memiliki dorongan untuk menjadi satu dan bersatu tanpa pamrih di dalam satu wadah negara bangsa (nation state).   
2.       Paham Kebangsaan  
Paham Kebangsaan merupakan pengertian yang mendalam tentang apa dan bagaimana  suatu bangsa mewujudkan masa depannya. Melalui peningkatan Paham Kebangsaan pada seluruh komponen bangsa Indonesia, akan sangat berpengaruh positif kepada visi warga negara tentang kemana bangsa ini harus dibawa ke masa depan.  






Dalam implementasinya, Paham Kebangsaan Indonesia dalam bentuk Wawasan Nusantara yang mengamanatkan persatuan di berbagai bidang. Paham Kebangsaan tidak boleh dikekang secara konservatif, akan tetapi harus diberikan aktualisasi sesuai dengan perkembangan jaman. Paham Kebangsaan di samping memahami ciri hakiki bangsa juga mencakup pemahaman tentang ruang negara, karena bagaimanapun juga ruang negara merupakan salah satu dasar pengambilan kebijakan nasional maupun orientasi masyarakat di dalam menumbuh-kembangkan dirinya.   Kesadaran terhadap ruang negara tertuang ke dalam geopolitik negara, yang dalam hal ini bagi bangsa Indonesia adalah Wawasan Nusantara.   Pemahaman warga negara tentang paham kebangsaan dengan dilandasi oleh pemahaman yang baik tentang Wawasan Nusantara yang bertujuan mewujudkan kesatuan dalam segenap aspek kehidupan nasional.  
3.       Semangat Kebangsaan
Pengertian Semangat Kebangsaan atau nasionalisme, merupakan perpaduan atau sinergi dari Rasa Kebangsaan dan Paham Kebangsaan. Dengan peningkatan Semangat Kebangsaan pada seluruh komponen bangsa, akan semakin meningkatkan kemampuan bangsa untuk tetap bertahan hidup menghadapi perkembangan lingkungan strategis yang serba cepat dan dinamis.   
Kebangsaan Indonesia adalah kebangsaan yang tidak didasarkan atas persamaan kelahiran, kesukuan, asal-usul, keturunan, kedaerahan, ras ataupun keagamaan, tetapi didasarkan atas persamaan perasaan satu jiwa, satu asas spriritual yaitu kesatuan solidaritas yang besar, tercipta oleh pengorbanan yang telah dibuat pada masa lampau dan bersedia dibuat di masa depan serta kehendak hidup bersatu di tanah air Indonesia sebagai suatu bangsa untuk bersama-sama berjuang mencapai cita-cita bangsa.   Kebangsaan Indonesia secara sadar mengakui dan memahami adanya pluralisme, karena pada kenyataannya bangsa Indonesia terdiri atas bermacam suku, golongan dan keturunan yang memiliki  ciri  lahiriah,  kepribadian, kebudayaan yang berbeda serta tidak menghapus kebhinekaan, melainkan melestarikan dan mengembangkan kebhinekaan sebagai dasarnya.   Guna menjaga NKRI tetap bersatu hingga akhir jaman, maka Semangat Kebangsaan perlu terus ditumbuhkembangkan, dipupuk dan dilembagakan pada semua tingkatan sosial masyarakat, secara utuh  dan kolektif.
        Wawasan Kebangsaan yang dimiliki oleh segenap komponen bangsa harus mampu menjaga jati diri, karakter, moral dan kemampuan dalam menghadapi berbagai masalah nasional. Dengan pengalaman krisis multidimensional yang berkepanjangan, agenda Wawasan Kebangsaan bagi bangsa Indonesia harus diarahkan untuk membentuk serta memperkuat basis budaya agar mampu menjadi tumpuan bagi usaha pembangunan di bidang lain.   Wawasan Kebangsaan harus tetap ada sebagai wujud nyata yang melembaga dari kesadaran nasional yang semakin menguat dan sebagai orientasi nilai yang   28mampu memperkuat identitas dalam memberikan motifasi pembangunan nasional.   





Wawasan Kebangsaan merupakan prinsip yang sangat  fundamental bagi bangsa Indonesia dalam mencegah terjadinya disintegrasi bangsa. Hal ini sesuai dengan teori Ernest Renan yang mengatakan bahwa kebangsaan merupakan suatu kesatuan solidaritas, kesatuan yang terdiri dari orang-orang saling merasa setia kawan antara satu sama lain. Kebangsaan tidak dapat disamakan dengan yang didasarkan atas kesamaan  ras,  bahasa,   agama,   kepentingan   bersama,   geografi    atau  batas-batas alamiah permukaaan bumi. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama yang bersinergi antara instansi satu dengan yang lainnya untuk mewujudkan tujuan bersama, sehingga perpecahan dapat dihindari seminimal mungkin. Hal ini sejalan dengan teori sinergitas yang apabila  dengan kerjasama yang tinggi dan saling mempercayai akan menghasilkan pola komunikasi yang bersifat  sinergitas   yang  berarti  kerjasama yang terjalin akan menghasilkan keluaran yang lebih besar dari penjumlahan hasil keluaran masing-masing pihak atau manfaat yang lebih baik.

c.        Kontribusi Pembinaan Masyarakat Terhadap Pemahaman dan Penghayatan Nilai-nilai Pancasila
        Dalam proses pembinaan masyarakat terhadap pemahaman dan penghayatan nilai-nilai Pancasila dalam wawasan kebangsaan pada seluruh komponen bangsa, dibentuk agar berwawasan kebangsaan serta berpola tata-laku secara khas yang mencerminkan budaya maupun ideologi. Proses pembinaan kebangsaan berbeda bagi tiap bangsa dan bagi bangsa Indonesia yang plural dan heterogen akan lebih mengedepankan wawasan kebangsaan yang unsur-unsurnya adalah Rasa Kebangsaan, Paham Kebangsaan dan Semangat Kebangsaan yang harus dibina secara berlanjut dan sinergis, karena letak kekuatan penangkalannya justru di dalam kesinergisannya. Kontribusi   29dalam pembinaan masyarakat terhadap pemahaman dan penghayatan nilai-nilai Pancasila dalam wawasan kebangsaan dapat dijelaskan sebagai berikut :
a.  Pelaksanaan pembinaan masyarakat  dalam memahami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila melalui pendidikan formal maupun informal dapat dilaksanakan secara bersinergi, maka rasa persatuan dan kesatuan bangsa dapat tetap terjaga.
b.  Pelaksanaan  pembangunan dengan berwawasan kebangsaan dan dengan penerapan sistem desentralisasi sesuai UU Otonomi Daerah telah membawa peningkatan yang sangat berarti pada pemberdayaan  masyarakat, pada pelayanan terhadap masyarakat dan pada kesejahteraan masyarakat, yang  diharapkan pada akhirnya dapat mempererat dan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, sehingga kedaulatan NKRI tetap terjaga.
c.  Pelaksanaan otonomi daerah selain menjanjikan harapan kemakmuran dan kemandirian daerah, akan berkontribusi terhadap  adanya upaya mencegah bahaya disintegrasi bangsa. Kondisi ini muncul akibat dari masyarakat di daerah-daerah yang pada akhir-akhir ini telah nampak adanya upaya dalam turut menyukseskan pembangunan nasional demi kemakmuran bersama, sehingga   munculnya   konflik   horizontal    terhadap  implementasi  PP No.6 Tahun 2005 tentang Pilkada misalnya, dapat dihindari atau paling tidak dapat dieliminir.


d.      Indikator Keberhasilan.       
Untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari upaya pembinaan masyarakat dalam memahami dan menghayati nilai-nilai Pancasila dalam  mewujudkan wawasan kebangsaan guna menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, maka perlu ditentukan indikator-indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan strategi pembinaan tersebut.  Indikator tersebut, antara lain :
1.    Pelaksanaan pembinaan masyarakat dalam penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila sudah diterapkan dengan baik, sehingga   Puluhan  perpecahan akan terhindar serta persatuan dan kesatuan bangsa dapat tetap terjaga.
2.    Pelaksanaan  pembangunan yang berwawasan kebangsaan telah dapat diterapkan dengan sistem desentralisasi yang membawa peningkatan pada pemberdayaan  dan pelayanan  masyarakat, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat meningkat dan persatuan dan kesatuan bangsa dapat terjaga.
3.    Pelaksanaan pembangunan  dalam meningkatkan kualitas  SDM dapat berjalan dengan baik dan dapat mencegah munculnya konflik horizontal, sehingga bahaya disintegrasi bangsa dapat dihindari. 
4. Perhatian Pemerintah dalam melaksanakan tanggung jawabnya untuk sosialisasi terhadap pemahaman, penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila melalui sertifikasi pendidikan formal maupun informal dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar pada seluruh lapisan masyarakat atau seluruh komponen bangsa.
5.    Pemahaman yang mendalam terhadap visi dan orientasi yang jelas akan membawa pada pelaksanaan pembangunan SDM lebih baik dan membawa kemakmuran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.
6.   Seluruh instansi dan komponen bangsa terkait bersinergi dalam pelaksanaan pembinaan masyarakat Indonesia guna memahami dan menghayati serta mengamalkan nilai-nilai Pancasila, sehingga dapat menghindari dan bahkan dapat menyelesaikan setiap permasalahan yang timbul yang pada akhirnya dapat hidup berdampingan penuh toleransi.

B.    Peneyelesaian Masalah
a.       Kebijakan   
Kebijakan yang digariskan dalam pembinaan masyarakat dalam menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila diarahkan untuk mewujudkan Wawasan Kebangsaan yang meliputi Paham Kebangsaan, Rasa Kebangsaan dan Semangat Kebangsaan secara bulat, utuh dan sinergis yang tertanam pada setiap individu komponen bangsa.   Kebijakan ini diperlukan guna memperkuat integritas NKRI dan meraih kesetiaan rakyat sebagai komponen bangsa, sehingga memiliki jiwa patriotisme dan kesetiaan yang mendalam kepada negara tercinta. 
       


Adapun kebijakan yang diambil dalam rangka mewujudkan upaya pembinaan masyarakat dalam menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila adalah sebagai berikut :
  “Mewujudkan pembinaan masyarakat dalam menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila melalui pemahaman terhadap rasa, paham dan semangat kebangsaan di seluruh komponen bangsa, institusi dan masyarakat Indonesia baik formal maupun informal guna  tetap  menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai NKRI”.
b.      Strategi   
Guna mewujudkan kebijakan yang telah digariskan, perlu dirumuskan suatu strategi. Strateginya yang digunakan adalah pembinaan masyarakat  dalam menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila yang meliputi Paham Kebangsaan, Rasa Kebangsaan dan Semangat Kebangsaan, sehingga diperoleh hasil yang optimal dan terfokus dengan benar terhadap permasalahan yang dihadapi saat ini.  Sebagai penjabaran lebih lanjut terhadap kebijakan yang digunakan, maka disusunlah beberapa strategi sebagai berikut : 
v  Strategi pertama : Mewujudkan kebijakan Pemerintah yang mendorong terhadap penyelesaian permasalahan menurunnya wawasan kebangsaan, dengan cara harus dibina secara bertingkat dan berlanjut, pada seluruh institusi dan komponen bangsa secara bersinergi.  Hal ini sesuai dengan Teori Sinergitas yang menghasilkan komunikasi dalam kerjasama antarkomponen bangsa. 
v  Strategi kedua : Meningkatkan kualitas dan kuantitas personel pada seluruh institusi dan komponen bangsa yang memiliki dedikasi dan rasa nasionalisme yang tinggi dengan meningkatkan adanya paham, rasa dan semangat kebangsaan melalui aplikasi penataran atau sertifikasi terhadap  nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman hidup dalam berbangsa dan bernegara serta  menciptakan suatu kondisi kehidupan  sosial dan politik yang sehat.
v  Strategi ketiga  : Mewujudkan pemahaman nilai-nilai luhur dalam kehidupan berbangsa melalui penerapan matapelajaran wajib Pendidikan Moral Pancasila, Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) dan Pendidikan  Pendahuluan Bela Negara (PPBN) di seluruh strata pendidikan negeri maupun swasta, formal maupun nonformal, agar   33tertanam rasa, paham dan semangat kebangsaan, sehingga persatuan dan kesatuan bangsa dapat  terwujud, sehingga kedaulatan NKRI tetap terjaga. 
Agar strategi yang telah digariskan tersebut dapat dilaksanakan, maka terlebih dahulu ditentukan tujuan, sasaran, subyek, obyek, metode serta sarana dan prasarana yang akan digunakan.






BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :
  a.  Dalam pembinaan masyarakat dalam pemahaman, penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila untuk menanggulangi ancaman terhadap disintegrasi bangsa, harus dilakukan secara simultan, berkesinambungan dan terarah di seluruh komponen bangsa. 
b.  Peningkatan pembinaan masyarakat dalam pemahaman, penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila merupakan salah satu cara yang dapat dilaksanakan untuk menghindari bahaya disintegrasi bangsa yakni  dengan melibatkan seluruh komponen bangsa.   
c.  Ideologi Pancasila merupakan seperangkat prinsip-prinsip yang dijadikan dasar untuk memberikan arah dan tujuan yang ingin dicapai dalam melangsungkan dan mengembangkan kehidupan nasional suatu bangsa dan negara.
d.  Kurangnya pengamalan terhadap ideologi Pancasila oleh masyarakat dapat terjadi, karena prinsip-prinsip dasar dan arah tujuan yang terkandung dalam ideololgi tersebut tidak dipahami, dimengerti, dipergunakan dan dilaksanakan sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara.
e.  Pembinaan masyarakat  dalam menghayati dan mengamalkan terhadap nilai-nilai Pancasila yang meliputi paham kebangsaan, rasa kebangsaan dan semangat kebangsaan, mutlak perlu diajarkan sejak usia dini melalui lembaga pendidikan formal maupun informal.
  
B.    Saran
        Berdasarkan kesimpulan di atas ada beberapa saran yang dapat diberikan guna mewujudkan upaya pembinaan masyarakat  dalam menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila yang meliputi paham kebangsaan, rasa kebangsaan dan semangat kebangsaan, antara lain:
a.       Untuk meningkatkan Wawasan Kebangsaan bagi segenap komponen bangsa diperlukan perhatian dan penanganan pihak-pihak terkait secara integratif.   Untuk itu, perlu diwujudkan adanya suatu wadah atau lembaga yang akan menangani masalah Wawasan Kebangsaan serta perlunya buku pedoman nasional yang dapat digunakan baik melalui pendidikan formal maupun nonformal.


  b.  Peran para elit pemerintah, elit politik dan tokoh masyarakat LSM serta media massa sangat diperlukan untuk meningkatkan Wawasan Kebangsaan.   Untuk itu para tokoh tersebut harus mempunyai komitmen untuk selalu mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas
kepentingan pribadi dan golongan dengan mengeyampingkan pemikiran sempit  yang menguntungkan hanya sekelompok orang. 
  c.  Perlunya  pengamalan Pancasila secara nyata dalam kehidupan sehari-hari melalui penataran atau sertifikasi Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), di seluruh lembaga pendidikan, baik formal maupun nonformal, agar lebih tertanam rasa cinta tanah air, bangsa dan negara bahkan selalu siap dalam usaha bela negara.
  d.  Perlunya penyegaran di seluruh elemen masyarakat tentang pembinaan dalam menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila yang meliputi paham kebangsaan, rasa kebangsaan dan semangat kebangsaan,  di setiap Kabupaten atau Kota dengan melibatkan instansi terkait secara bertahap dan berlanjut.
Assalammuallaikum Warahmatullahhiwabarakatuh”


















DAFTAR PUSTAKA

1.  A F. Stones James, Management, (dalam R. Sulistiyadi. Majalah Seskoal). Jilid I Edisi 1.
 
2.  Buku Kewarganegaraan. Pancasila sebagai Dasar dan Ideologi Negara. Penerbit Yudhistira. Jakarta. 2005.

3.  DR. J. KALOH,  Mencari Bentuk Otonomi Daerah, Suatu Solusi dalam Menjawab Kebutuhan Lokal dan Tantangan Global . PT Rineka Cipta.  Jakarta. 2002.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar